Hukum Istri Minta Cerai Dalam Islam

Hukum Istri Minta Cerai Dalam Islam

DIARYISLAM.COM – Pernah mendengar Hukum Istri Minta Cerai dalam Islam? Membina keluarga yang harmonis dan sakinah adalah impian setiap orang. Namun tak sedikit yang ternyata tidak sesuai harapan. Misalnya saja seperti keluarga yang tidak bisa menjadi keluarga yang utuh selamanya. Disebabkan oleh adanya konflik yang berujung perceraian.

Umumnya perceraian disebabkan karena masalah yang dihadapi oleh sebuah pasangan tidak menemukan solusi. Tapi bagaimana jika istri yang meminta cerai kepada suaminya? Bagaimana hukum istri minta cerai dalam Islam itu sendiri apakah ada?

Definisi Minta Cerai

Perceraian bisa terjadi apabila salah satu dari suami apa istri menggugat cerai pasangan. Lalu apa definisi minta cerai itu sendiri? Minta cerai adalah ketika istri mengajukan gugatan cerai.

Gugatan cerai tersebut selanjutnya diteruskan ke pengadilan, pengadilan bisa saja menyetujui atau menolak permintaan cerai tersebut.

Kalau permintaan atau gugatan cerai yang diajukan oleh istri ternyata disetujui pengadilan, maka pengadilan akan memaksa suami agar menjatuhkan talak.

Hukum Minta Cerai dalam Islam

Minta cerai atau gugat cerai biasanya diajukan oleh pihak istri. Tapi apakah Islam membolehkan seorang istri menggugat cerai suaminya?

Melihat banyaknya kasus gugat cerai yang di limpahkan oleh istri kepada suami mereka, sangat penting untuk mengetahui hukum Islam dalam masalah kasus perceraian. Karena jika tidak tahu maka seorang istri yang meminta cerai dari suaminya bisa menyalahi aturan syariat yang berujung pada perbuatan dosa.

Minta cerai dalam Islam terdapat dua istilah yaitu fasakh dan khulu.

  • Fasakh yaitu putusnya hubungan antara suami dan istri dari ikatan pernikahan di mana pihak istri mengembalikan mahar atau harta suami.
  • Khulu yaitu pihak istri mengembalikan mahar atau harta milik suami ketika memutuskan untuk menggugat cerai suaminya.

Dalam Islam seorang istri bisa mengajukan gugat cerai jika memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh syariat agama. Seorang istri yang tidak memiliki alasan kuat untuk menggugat cerai suaminya maka Allah tidak akan memperkenankan ia mencium bau surga.

Allah mengharamkan bagi siapa saja wanita yang menggugat cerai suaminya tanpa didasari alasan yang dibenarkan oleh Islam.

Jadi bisa disimpulkan bahwa hukum istri minta cerai dalam Islam adalah diperbolehkan. Dengan catatan gugatan cerai yang dilayangkan oleh istri kepada suaminya memiliki alasan. Apabila tidak ada alasan maka haram baginya untuk masuk surga.

Hukum Istri Minta Cerai dalam Islam
Hukum Istri Minta Cerai dalam Islam

Alasan-alasan yang Membolehkan Istri Minta Cerai dalam Islam

Sudah jelas bahwa hukum gugat cerai menurut Islam adalah diperbolehkan. Namun ada syarat tertentu yang menjadi alasan seorang istri bisa mengajukan permintaan cerai dari suaminya. Alasan-alasan tersebut harus sesuai dengan syariat Islam yang mana jika tidak memiliki alasan itu maka istri tidak bisa minta cerai dari suaminya.

Berikut adalah beberapa alasan istri minta cerai sesuai hukum Islam :

1. Istri Mendapat Perlakuan Kejam

Maraknya kasus KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga membuat pihak istri seringkali menjadi korban dari perlakuan kasar suaminya. Alasan ini bisa dijadikan oleh istri sebagai syarat untuk minta cerai dari suaminya. Dilihat dari sudut pandang hukum Islam, seorang istri bisa minta cerai dari suaminya dengan alasan tersebut.

Cerai adalah solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah kekerasan dalam rumah tangga jika tidak ada cara lain yang bisa menghindarkan dari perceraian. Berbeda jika suami mau merubah sikap dan perilakunya kepada istrinya. Gugat cerai bisa ditangguhkan oleh pihak istri.

2. Istri Dibenci Suami

Siapa saja jika tidak lagi dicintai oleh pasangannya pasti hidupnya tidak akan merasa bahagia, begitu juga dengan istri yang tidak dicintai dan juga dibenci oleh suaminya. Istrinya bisa minta cerai dengan mengajukan gugat cerai ke pengadilan.

Cara ini bisa digunakan ketika sang istri sudah merasa tidak betah lagi hidup bersama pasangannya dan suami enggan untuk menceraikan dirinya. Alasan ini diperbolehkan dalam hukum istri minta cerai dalam Islam sebagai cara untuk minta cerai dari suami.

3. Suami Melanggar Syari’at Agama

Ketika sudah menjalani kehidupan rumah tangga hendaknya setiap pasangan saling mengajak untuk melaksanakan perintah agama serta menjauhi larangan yang telah ditentukan. Rumah tangga yang sakinah tidak akan bisa dicapai tanpa ridho dari Allah. Dan untuk mendapatkan ridha Allah maka tiap pasangan khususnya suami dan istri harus selalu konsisten dalam beribadah. Tujuannya adalah agar Allah menyayangi mereka dan menjadikan rumah tangganya sakinah.

Hukum Istri Minta Cerai Dalam Islam
Katantuan Cerai

4. Istri Tidak Mendapat Nafkah

Tugas utama suami ialah memberi nafkah kepada keluarganya.

Ada pernyataan, “Uang suami adalah uang istrinya, sedangkan uang istri adalah uang miliknya sendiri”.

Pernyataan tersebut memang benar adanya. Wajib hukumnya seorang suami memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Apabila kewajiban tersebut tidak dilaksanakan oleh seorang suami maka dia berdosa.

Apabila seorang istri tidak mendapat nafkah dari suaminya selama 3 bulan berturut-turut maka ia bisa mengajukan gugat cerai. Seorang Istri bisa minta cerai dari suaminya dengan alasan ini. Sebab suami telah melanggar kewajiban yang telah ditentukan oleh hukum Islam.

5. Kebutuhan Biologis Istri Tidak Terpenuhi

Seorang istri tidak hanya dinafkahi secara materi saja tetapi juga kebutuhan biologisnya juga harus dipenuhi. Kebutuhan biologis yaitu kebutuhan berhubungan seksual. Namun apabila suami tidak bisa memenuhinya maka istri bisa minta cerai darinya. Hal ini sudah sesuai dengan alasan istri minta cerai dalam hukum Islam.

Ada banyak penyebab mengapa suami tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Sebut saja seperti suami tidak melakukan hubungan intim dengan istrinya karena justru dia berhubungan dengan wanita lainnya. Atau bisa juga penyebabnya adalah suami memiliki penyakit yang membuatnya tidak bisa melakukan hubungan seksual.

6. Suami Tidak Diketahui Keberadaannya

Banyak kasus yang terjadi di Indonesia seorang istri ditinggal pergi entah kemana oleh suaminya. dan istrinya tersebut tidak mengetahui secara jelas keberadaannya bahkan tidak pernah lagi diberi nafkah. Dalam kasus ini apakah seorang istri bisa mengajukan cerai ke pengadilan terkait keberadaan suaminya yang tidak jelas.

Dilihat dari kacamata hukum istri minta cerai dalam Islam ternyata seorang istri diperbolehkan untuk menggugat cerai suaminya karena keberadaan suaminya tidak diketahui. Kasus semacam ini merupakan contoh nyata seorang suami yang tidak mau bertanggung jawab kepada keluarganya. Maka Islam pun membolehkan istri untuk minta cerai.

7. Tidak Ada Rasa Suka dari Istri kepada Suami dan Takut Melakukan Kekufuran

Istri yang memiliki rasa tidak suka kepada suaminya dan apabila dia tidak menceraikannya lalu membuat dia melakukan kekufuran maka dia diperbolehkan untuk menggugat cerai suaminya. Dengan syarat dia harus mengembalikan mahar atau harta suaminya yang telah ah diberikan kepadanya dulu.

Hukum istri minta cerai dalam Islam diperbolehkan dengan syarat istri memiliki alasan-alasan dan yang dibenarkan oleh Islam. Seorang istri tidak bisa minta cerai jika tidak memiliki alasan-alasan yang jelas. Allah tidak akan mengijinkannya mencium bau surga bagi istri yang secara sembarangan minta cerai.

Bagaimana Hukum BPJS Menurut Islam ?

Bagaimana Hukum BPJS Menurut Islam ?

DIARYISLAM.COM – BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial adalah lembaga yang mengurusi jaminan sosial di Indonesia. Dari berbagai masalah yang menimpa BPJS saat ini, BPJS difatwa haram oleh Majelis Fatwa Indonesia (MUI). Namun masih banyak yang tetap menggunakan BPJS sebagai layanan jaminan sosial kesehatan maupun kata ketenagakerjaan mereka. Sebenarnya bagaimana hukum BPJS menurut Islam? Alasan apa yang mendasari MUI mengatakan bahwa BPJS haram.

BPJS Tidak Sesuai dengan Hukum Islam

Dalam hukum Islam ada 3 hal yang dilarang diterapkan pada perniagaan atau jual beli.

      • Pertama yaitu gharar artinya ketidakpastian,
      • kedua riba atau bunga
      • ketiga maisir atau judi.

Islam tidak membolehkan ketiga perkara tersebut karena dianggap merugikan baik salah satu pihak, sehingga terkesan pihak pertama mengambil keuntungan dengan cara yang salah dari pihak kedua.

Dan tahukah anda bahwa ketiga perkara yang dilarang dalam Islam itu ternyata terdapat pada BPJS. Ambil saja contoh nyata misalnya iuran atau dana premi yang secara berkala dibayarkan oleh pemegang kartu BPJS. Ternyata dana tersebut diinvestasikan pada bisnis yang tidak halal seperti deposito atau pinjaman konvensional dengan bunga tinggi. Para peserta BPJS juga mengeluhkan premi yang selalu naik dan wajib untuk membayarnya. Sesuatu yang dilarang oleh Islam pastilah karena mempunyai potensi merugikan.

Terdapat dua alasan sangat penting mengapa BPJS tidak sesuai dengan hukum atau syariat Islam.

  • Pertama yaitu bahwa BPJS yang merupakan lembaga asuransi konvensional ternyata akadnya tidak sesuai dengan syariat. Jadi tidak hanya ada unsur riba gharar dan maisir saja di dalamnya yang membuatnya haram.
  • Sedangkan alasan yang kedua yaitu hukum BPJS menurut Islam ternyata tidak sesuai syariah, khususnya tentang jaminan kesehatan yang diberikan kepada rakyat Indonesia. Seharusnya negara memberikan fasilitas jaminan kesehatan gratis kepada rakyat. Bukan malah rakyat yang harus membayar kepada negara untuk jaminan kesehatannya.

Akad dalam BPJS Tidak Sesuai dengan Aturan Syariah

Alasan pertama mengapa hukum BPJS menurut Islam diharamkan?

Karena adanya ketidakcocokan dalam akad BPJS dengan syariah, dalam hal ini BPJS tidak sesuai dalam dua aspek akad.

Aspek pertama yaitu mengenai objek akad. Objek akad pada BPJS tidak memenuhi syarat akad yang sesuai syariat.

Objek yang sah sesuai dengan syariat yaitu adanya barang dan jasa, sedangkan dalam hukum BPJS kedua objek itu tidak ada. Objek akad pada BPJS hanyalah janji dan pertanggungan, dan kedua objek tersebut tidak bisa disebut sebagai barang dan jasa.

Sehingga kalau dilihat dari segi objek maka BPJS sudah tidak syariah. BPJS sebagai lembaga asuransi konvensional jelas menggunakan cara yang batil dan diharamkan oleh Islam.

Di dalam BPJS akad pertanggungan ternyata tidak sesuai dengan ketentuan akad jaminan atau pertanggungan itu sendiri. Islam mengatur akad mengenai pertanggungan atau jaminan, setidaknya ada tiga pihak yang ada dalam akad ini.

Ketiga pihak yang disebutkan dalam akad pertanggungan atau jaminan dalam hukum Islam yaitu :

      1. pihak penanggung
      2. pihak tertanggung
      3. pihak yang penerima tanggungan.

Dalam akad ini, tanggungan dari pihak tertanggung digabung menjadi tanggungan pihak penanggung, sedangkan pihak penerima tanggungan tidak perlu membayar apapun untuk mendapatkan jaminan.

Berbeda dengan BPJS yang hanya menggunakan dua pihak saja, bukan tiga pihak yang sesuai dengan syariah.

Dua pihak tersebut ialah pihak penanggung atau perusahaan asuransi dan pihak penerima tanggungan atau peserta asuransi. Dan tidak ada pihak tertanggung.

Aturan dari layanan asuransi konvensional yaitu BPJS tidak menerapkan penggabungan tanggungan dari pihak penerima tanggungan (peserta asuransi) dengan tanggungan pihak penanggung (BPJS).

Alasan tidak adanya penggabungan antara tanggungan penanggung dengan penerima tanggungan adalah pihak penerima tanggungan tidak memiliki tanggungan pihak lain.

BPJS juga mengharuskan penerima tanggungan untuk membayar kepada pihak penanggung.

Aturan tersebut tidak bertentangan dengan akad tanggungan dalam Islam.

Menurut aspek akad tanggungan di dalam Islam, pihak penerima tamu dengan tidak membayar apapun kepada pihak penanggung. Itulah alasan mengapa BPJS diharamkan dalam Islam.

Hukum BPJS Menurut Islam
Hukum BPJS Menurut Islam

BPJS Tidak Sesuai Syariah Tentang Kewajiban Negara

Alasan kedua mengapa hukum BPJS menurut Islam diharamkan?

karena tidak sesuai dengan hukum syariah mengenai kewajiban negara. Menurut syariat Islam sebuah negara hendaknya memberi jaminan kesehatan pada masyarakat secara cuma-cuma alias gratis.

Masalah seperti pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dulu, ketika Rasulullah SAW memimpin, beliau menyediakan fasilitas kesehatan kepada umatnya secara gratis.

Rakyat saat itu tidak perlu membayar ketika akan berobat kepada tabib atau dokter. Sebagai seorang muslim kita harus mencontoh Rasulullah Saw, sebab bagaimanapun juga adalah contoh panutan semua umat muslim bahkan semua manusia di dunia.

Dengan dua alasan tersebut dapat disimpulkan bahwa BPJS bagaimanapun juga tidak bisa menjadi lembaga penyedia jaminan sosial yang sesuai dengan syariat Islam. Karena di dalamnya terdapat unsur-unsur gharar, riba dan maisir.

Dilihat dari aspek objek akadnya juga berbeda dengan akad yang ditetapkan oleh Syariah. BPJS akadnya hanya berupa janji atau komitmen, tidak sesuai dengan angkat pertanggungan, dan peserta atau masyarakat diwajibkan untuk membayar tanggungan.

Jadi, BPJS jika dilihat dari hukum Islam ternyata tidak sesuai dengan syariat, maka oleh sebab itu BPJS hukumnya adalah haram. Memungut biaya dari peserta atau masyarakat tentu telah melanggar ketentuan hukum Islam. Negara harus memberi fasilitas kepada rakyatnya agar dapat merasakan jaminan kesehatan secara gratis.

BPJS Tidak Diharamkan Bagi Peserta Ini

Hukum BPJS menurut Islam adalah haram dan dilarang. Namun ada kategori peserta BPJS yang dibolehkan atau tidak diharamkan. Untuk lebih lengkapnya ada tiga kategori peserta kartu BPJS, yaitu:

      • Peserta Bantuan Iuran (PBI)

Kategori ini khusus bagi warga yang kurang mampu. Peserta bantuan iuran tidak dibebankan untuk membayar tanggungan setiap bulannya.

      • Peserta Non-PBI

Peserta BPJS non PBI ditujukan kepada PNS/POLRI/TNI, lembaga atau perusahaan. Premi ditanggung oleh instansi dan sebagiannya ditanggung oleh peserta.

      • Mandiri

Peserta harus menyetor dana dengan jumlah yang telah ditetapkan. Jika peserta terlambat untuk menyetor dana iuran maka akan kena denda. Terdapat unsur riba dan gharar di dalam kategori mandiri.

Dari ketiga kategori tersebut yang diperbolehkan yaitu :

  • kategori 1, sebab peserta BPJS tidak dibebankan untuk membayar iuran dan tidak ada denda.
  • Untuk kategori 2 diperbolehkan dengan syarat, peserta tidak membayar premi sendiri dan tidak ada denda.
  • Kategori 3 sebaiknya jangan diikuti sebab sudah jelas-jelas haram. BPJS dalam kategori 3 ini terdapat gharar dan riba.

Gharar karena BPJS memiliki spekulasi rugi yang tinggi. Sementara kecelakaan atau sakit merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksi. Kita tidak pernah tahu apakah di masa depan akan mengalami kecelakaan atau tidak.

Apabila hendak mendaftar BPJS maka penting untuk benar-benar mengetahui hukum-hukumnya. Jangan sampai kita tidak tahu hukum BPJS menurut Islam.

Hukum Pacaran dalam Agama Islam

Hukum Pacaran dalam Agama Islam

DIARYISLAM.COM – Pacaran sudah menjadi hal yang biasa di kehidupan masyarakat kita. Jika kita melihat dari sisi agama Islam, pacaran sebenarnya merupakan perbuatan yang mendekati zina. Zina seperti diterangkan di dalam Al Quran dan hadits adalah salah satu dosa besar yang tidak terampuni. Hukum pacaran dalam agama Islam bisa diketahui melalui riwayat hadis maupun ayat di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Pacaran Dilarang Agama Islam Karena Alasan Ini

Islam mengharamkan pacaran tentu ada alasan yang kuat. Bukankah kita sebagai umat Islam harus mengikuti aturan serta syariat yang telah ditetapkan agama? Tugas kita hanya patuh dan menjauhi perbuatan maksiat ini.

Ada Beberapa Alasan Mengapa Islam Melarang Pacaran.

1. Merupakan Perbuatan Zina

Pacaran adalah perbuatan yang bisa mendekatkan kepada zina. Allah tidak akan mengampuni dosa zina. Dosa zina adalah salah satu dari dosa besar yang bisa menjerumuskan pelakunya ke neraka serta tidak akan mendapat ampunan dari Allah. Allah mengatakan dalam salah satu ayat bahwa zina adalah perbuatan kotor dan jalan yng paling jelek. Allah mengingatkan kepada manusia agar menjauhi zina.

Hubungan pacaran merupakan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak diikat secara syariat agama. Pacaran lebih banyak memberikan mudhorot daripada manfaat. Syetan akan selalu membisikkan kepada pasangan yang berpacaran dan mengarahkan ke perbuatan zina.

Hukum Pacaran dalam Agama Islam
Pacaran Dilarang Agama

2. Mengundang Kemarahan Allah

Allah akan memarahi mereka yang melanggar aturan yang telah ditetapkanNya dalam syariat Islam. Termasuk melakukan perbuatan yang mengarah kepada zina yaitu pacaran. Pacaran akan membuka banyak peluang untuk melakukan zina. Zina terdiri dari beberapa jenis yaitu zina mata, zina pikiran, zina telinga, zina tangan, dan zina lidah.

Jenis-jenis zina tersebut berpotensi unduh direalisasikan menjadi zina kemaluan. Apapun jenis zinanya, hukum pacaran dalam agama Islam tetaplah dosa dan haram apabila dilakukan oleh seorang muslim. Jika sudah mendapat kemarahan dari Allah maka pintu tobat sulit terbuka, sebab Allah tidak akan menunjukkan dan membukakan hati menuju ke jalan yang benar.

3. Membangkitkan Syahwat

Mustahil jika dalam berpacaran tidak bertatapan, berdua-duaan, saling bercengkrama tanpa ada orang lain disekitarnya, atau bahkan saling berpegangan tangan. Sebagai manusia normal pasti hal-hal tersebut bisa membangkitkan syahwat. Sah-sah saja apabila syahwat disalurkan kepada pasangannya asalkan sudah dalam ikatan pernikahan. Yang jadi masalah adalah bahwa pacaran merupakan hubungan yang tidak diikat secara syariat. Pacaran dapat membangkitkan syahwat sehingga seseorang akan berdosa jika mengalami hal tersebut.

4. Menyia-nyiakan Waktu

Waktu yang tidak lama di dunia ini harus telah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan untuk kebaikan. Manusia akan merugi baik di dunia dan di akhirat jika di masa hidupnya tidak menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Kita bisa menggunakan waktu hidup di dunia untuk beribadah dan berbuat baik serta beramar ma’ruf nahi munkar. Itulah yang agama perintahkan kepada umatnya.

5. Merusak Pergaulan Sosial

Pergaulan yang baik adalah pergaulan yang tidak menimbulkan syahwat dan nafsu. Meskipun ada tapi sebisa mungkin harus dihindari pergaulan yang seperti itu. Pacaran adalah salah satu contoh nyata pergaulan yang bisa menimbulkan syahwat. Di dalam Islam sendiri dilarang seorang laki-laki dan seorang perempuan saling berduaan atau menjalani sebuah hubungan yang tidak sah.

Terlalu besar resiko yang diakibatkan oleh hubungan pacaran. Selain akan mendapat azab dari Allah dan juga dosa, pacaran juga bisa mengakibatkan hamil diluar nikah. Sudah banyak kasus seperti ini terjadi. Penyebabnya tak lain adalah karena pacaran. Pacaran dilarang Islam sebab pacaran memberikan kemudhorotan yang besar. Pergaulan sosial juga akan semakin kacau, khususnya di kalangan anak muda.

6. Menghambat Turunnya Rezeki

Seseorang yang melanggar syariat Islam tentu akan mendapat dosa. Selain dosa, orang yang melakukan perbuatan yang dilarang Allah tidak akan mendapat rahmat dan rezeki. Pacaran adalah satu perbuatan yang dilarang oleh Allah. Orang yang melakukan pacaran tidak akan mendapat rahmat serta rezeki dari Allah juga terhambat. Jika tidak ingin mendapat maka Allah serta terhambat turunnya rezeki serta rahmat dari Allah hendaknya jauhi pacaran. Pacaran hanya akan mendekatkan kita kepada dosa besar seperti zina.

7. Dapat Azab dari Allah

Barangsiapa melakukan zina, maka seseorang akan mendapat laknat dan azab dari Allah. Pacaran sebagai jalan menuju zina bisa menjadi penyebab seseorang terkena azab yang kekal. Allah tidak akan mengangkat orang yang melakukan zina dari siksaan dan azabNya. Kecuali, orang tersebut bertaubat dan memohon ampun atas perbuatannya kepada Allah.

8. Tidak Boleh Pacaran Adalah Perintah Allah

Hukum pacaran dalam agama Islam tidak diperbolehkan atau dilarang karena akan mengakibatkan dosa bukanlah hasil keputusan dari majelis, perseorangan ataupun lembaga tertentu yang mengurusi Islam saja. Sebab ada dasar yang lebih kuat yang menyimpulkan bahwa pacaran hukumnya haram menurut Islam, yaitu dari Quran dan hadits.

Kedua sumber itu bukan berasal dari hukum yang dibuat oleh manusia tetapi langsung dari Allah dan disampaikan oleh seorang Rasulullah Saw. Makalah, bisa disimpulkan bahwa pacaran dilarang itu adalah dari Allah sendiri.

Hukum Pacaran dalam Agama Islam dan Dalilnya

9. Zina adalah Perbuatan Keji

Di salah satu ayat Alquran disebutkan bahwa Allah melarang kita untuk mendekati zina, karena perbuatan zina adalah perbuatan yang keji. Peringatan dari Allah itu hendaknya menjadi di himbauan bagi manusia agar tidak melakukan perbuatan pacaran. Sebab pacaran adalah salah satu perkara yang bisa membawa manusia dekat kepada zina. Jadi, sudah jelas bahwa hukum pacaran dalam agama Islam adalah tidak diperbolehkan atau dilarang.

10. Tundukkan Pandangan!

Seorang laki-laki hendaknya menundukkan pandangan terhadap perempuan yang bukan muhrimnya. Sama halnya dengan seorang perempuan harus menundukkan pandangannya atau menjaga pandangannya dari laki-laki yang bukan muhrimnya.

Tahukah Anda jika zina itu berawal dari pandangan kepada lawan jenis? Pandangan akan membangkitkan syahwat dan syahwat bisa membawa ke perbuatan zina. Jadi Allah memerintahkan kepada umat Islam khususnya agar menjaga pandangannya dari lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Kita bisa menjaga pandangan kita terhadap lawan jenis jika kita bisa menghindari cara-cara yang bisa mengarah ke perbuatan tersebut. Salah satunya adalah dengan menjauhi pacaran.

11. Wanita Wajib Menutup Aurat

Allah memerintahkan agar wanita menutup auratnya itu wajib diketahui bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Di samping itu itu wanita juga harus menjaga pandangan, suara, dan perilakunya.

12. Dilarang Berduaan dengan Lawan Jenis

Dilarang untuk berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, karena yang ketiga adalah setan. Setan akan terus menggoda mereka untuk melakukan perbuatan yang dilarang syariat agama.

13. Dilarang Saling Menyentuh dengan Lawan Jenis

Menyentuh secara langsung dan sengaja kepada lawan jenis yang bukan merupakan berikutnya adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Menyentuh lawan jenis yang bukan mahram bisa menimbulkan syahwat yang haram. Dan yang pasti ini bisa mengakibatkan seseorang jatuh kedalam berzina. Naudzubillah min dzalik.

Jadi, hukum pacaran dalam Islam adalah haram dilakukan oleh umat muslim. Allah bahkan dengan tegas memperingatkan kepada manusia agar menjauh dari hal-hal yang bisa mendekatkan kepada zina. Allah tidak akan mengampuni seseorang yang melakukan perbuatan zina. Semoga bermanfaat

error: Content is protected !!
Open chat